Di sekolah kami, ada seorang guru baru yang pandai sekali melucu. Namanya Pak Sukowidjojo, panggilannya Pak Suko, guru olahraga di sekolah kami, dan baru bertugas di sekolah kami sejak 5 bulan lalu.
Karena kami sering memergoki beliau beli kacang di kantin selagi jam istirahat, maka kami menjulukinya Pak Sukro. Dasar Pak Sukro memang orang yang humoris, begitu tau dia diberi julukan begitu bukannya marah malah tertawa-tawa.
Usia beliau sudah hampir masuk kepala lima. Tepatnya tahun ini beliau berulang tahun yang ke 48. Namun sampai saat ini, beliau masih jomblo. Dan bukan keinginannya untuk begitu, namun karena memang katanya belum menemukan yang pas. Padahal banyak wanita yang mau sama beliau. Termasuk salah satu guru, yang juga guru baru, yang terkenal cantik tapi ganjen, yakni Bu Tiffany.
Suatu hari, pada saat jam istirahat, tak sengaja kami melihat Bu Tiffany sedang menggoda Pak Sukro.
“Weleh, temen-temen. Lihat tuh bu guru ganjen kita lagi nggodain Pak Sukro…”, celetuk Aden.
“Mana? Mana? Nggak ada kok?”, sahutku sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.
“Itu tuh di sana!”, jawab Stefani sambil menunjuk ke arah taman sekolah.
“Waduh waduh….nggak beres nih. Pak Sukro emang masih jomblo. Tapi aku nggak rela kalo Pak Sukro deket sama guru ganjen kaya Bu Stefani itu”
“Oy Den….Stefani tuh gw! Kalo guru ganjen itu namanya Bu Tiffany! Masa daridulu nggak paham-paham juga sich!?”,
“Ah apalah itu namanya si guru ganjen. Yang penting kita ke sana aja, biar kita bisa nguping pembicaraan mereka. Ayuklah Stef, Rud!”
Aku, Stefani, dan Aden bergegas mendekati mereka sambil mencari tempat sembunyi supaya bisa nguping pembicaraan mereka dengan jelas dan aman.
“Pak Suko, malam ini ada acara?”
“Ah…eh…umm….ano….err…..ndak ada iq. Emang ada apa iq, Bu Fany?”
“Ah ndak ada apa-apa kok. Cuma pengen ngundang Pak Suko makan malam di rumah saya aja. Pak Suko ndak keberatan kan?”
“Ayo bilang keberatan! Ayo bilang keberatan! Ayo Pak! Ayo tolak!! Bapak pasti bisa!!”, teriak-teriak Aden sambil berbisik di balik tempat persembunyian kami.
“Sssst!! Berisik banget sich loe! Entar kita ketahuan, bego!!”, bentak Stefany, juga sambil berbisik.
“Oh…..uh….ah…oh ndak…ndak keberatan kok Bu. Baiklah nanti malam saya akan datang ke tempatnya Bu Fany..”, jawab Pak Sukro sambil tersipu-sipu.
“Oh terimakasih ya Pak sudah mau menerima undangan makan malam di rumah saya”, sahut Bu Tiffany sambil melempar senyum.
“Ssss….sama-sama Bu…”
Malam harinya
Pak Sukro sudah datang dengan pakaian batik kesukaannya. Dia datang sambil membawa bunga.
Sementara Pak Sukro berjalan kea rah pintu rumah Bu Fany, kami dengan setia menguntit Pak Sukro dari agak kejauhan. Aku, Aden, dan Stefani siap dengan perlengkapan tempur, demi misi melindungi Pak Sukro dari “ulah jahat” Bu Fany.
Tok tok tok….
Pak Sukro mengetuk pintu rumah Bu Fany tiga kali. Berselang sepuluh detik kemudian, Bu Fany membukakan pintu rumah, dan sang guru ganjen itu lagi-lagi langsung melempar senyuman ganjen nya yang bikin Pak Sukro jadi terlihat semakin grogi.
“Waduh gawat nih, kayanya firasat kita tentang si guru ganjen ini mau ngapa-ngapain Pak Sukro bener nih..Tuh lihat, udah gelagatnya gak beres banget”
“Udahlah Den, gak usah banyak komentar dulu. Kita liat aja gimana perkembangan selanjutnya deh.”, sahutku sambil tetap mengamati pintu rumah Bu Fany yang sudah tertutup.
Lama sekali mereka berdua di dalam ya. Tiba-tiba sekitar 35 menit kemudian kami mendengar teriakan Pak Sukro…
“AARGH!!”
Kami bergegas menuju ke rumah Bu Fany. Namun dari arah lain, segerombolan polisi datang dan juga bergegas menuju rumah Bu Fany. Pintu ditendang oleh salah seorang polisi dan mereka langsung menyerbu masuk menuju rumah Bu Fany.
“ANGKAT TANGAN!”, perintah salah seorang Polisi kepada salah satu di antara Bu Fany atau Pak Sukro.
“Target sudah saya amankan, Ndan! Sekarang ayo kita bawa dia ke kantor polisi untuk diinterogasi!”, sahut Bu Fany dengan lantang kepada salah seorang Polisi yang kami duga adalah Komandan.
“Eh…ah….eh…lho kok??”
Melihat kami bertiga yang kebingungan, maka Bu Fany segera menjelaskan duduk perkaranya. Bahwa Pak Sukro adalah salah seorang pengedar yang menyamar menjadi guru baru di sekolah kami. Dan Bu Fany adalah Polisi yang juga menyamar menjadi guru baru di sekolah kami demi untuk menangkap Pak Sukro.
Dan ternyata kacang yang sering kami lihat di dibeli oleh Pak Sukro di Kantin adalah obat terlarang yang dikemas menyerupai kacang. Dan Pak Sukro yang kami sering membeli kacang di Kantin itu ternyata sedang menyetok barang-barang haram yang dibungkus menyerupai kacang itu untuk dijual di Kantin.
Tapi kami bertiga jadi merasa bersalah kepada Bu Fany karena kami sudah menuduhnya macam-macam. Padahal jelas Bu Fany adalah penyelamat sekolah kami. Maafkan kami ya Bu….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar